Have you ever been struck by lightning?
I've once struck by lightning.
For me; it feels like being hit by someone who really mad at me, using a frying pan.
Apa kau pernah disambar petir?
Aku pernah.
Rasanya seperti ditampar, dengan wajan penggorengan.
Yah, bukan berarti aku pernah dipukul dengan benda itu, tapi itu jelas sepuluh kali lipat lebih keras dari tamparan biasa seseorang yang sedang murka.
Kuharap kau tak pernah mengalaminya.
Teman satu kos yang sedang duduk makan siang di depanku yang menjadi saksi.
Aku sendiri tidak sadar maupun melihat ke arah petir yang menyambar ketika itu terjadi.
Tapi aku ingat rasanya yang menyakitkan, pipi kananku yang kebas dan badanku yang terpelanting hingga jatuh dari meja telepon tempatku duduk.
Mungkin aneh mendengar orang bisa tersambar petir di dalam rumah, tapi lokasi meja telepon kos ada di bawah atap semi terbuka lantai dua. Kabel teleponnya menjulur dari atas ke bawah melewati celah angin-angin selebar satu meteran. Orang bisa melihat langit dari celah itu. Aku tak memedulikan percikan-percikan air hujan yang mengenai wajahku. Toh aku tak sampai basah kuyup, pikirku. Well, itu pemikiran yang salah.
Yep. Bukan membesar-besarkan kalau ada yang bilang 'Jangan menelepon selagi hujan badai!'
Selain pembicaraan jadi tidak jelas terdengar,
bisa memberi bonus salam gosong alias disambar petir.
Waktu itu, aku sedang mabuk kepayang dengan seseorang yang meneleponku. Jadi apapun cuacanya, terasa cerah bagiku. Biar saja hujan petir badai topan di luar, asal dalam hati sejuk bersemi...
Petir mengembalikanku ke realita dengan telak.
Aku hanya melihat reaksi teman satu kos yang semula sedang makan siang di depanku, kedua tangannya memegang sendok dan garpu. Hampir seketika, bersamaan dengan aku merasakan 'tamparan keras di pipi kananku itu' sendok dan garpu yang dipegangnya terlontar ke samping kiri kanannya. Ia menganga lebar beberapa detik, lupa mengunyah.
Kemudian menjerit 'Apa kau tak apa-apa?' sambil terjengkang berdiri.
Aku ingat merasa reaksinya lucu sekali (^0^)...
Benar-benar bodoh...mungkin otakku kacau gara-gara disambar petir.
Aku beruntung, karena tidak gosong dan sehat walafiat setelahnya.
Satu-satunya kerusakan yang timbul adalah kacamata yang pecah selagi masih bertengger di hidungku, beberapa detik setelah aku pulih dari syok dan beranjak ke wastafel untuk cuci muka.
'PRAK!' kaca sebelah kanan kacamataku terbelah jadi dua dan mencelat ke lubang yang memisahkan antara lantai satu dan dua bangunan kos.
Jatuh tepat di depan salah satu teman kosku yang sedang lewat di lantai bawah.
Aku masih ingat betapa kagetnya aku saat melihat pecahan kaca itu menancap di lantai keramik.
'Khayal! impossible! mustahil!' pikirku.
tapi begitulah kejadiannya, teman satu kosku yang nyaris jadi korban ikutan kaget dan tak percaya, apa jadinya kalau dia melangkah lebih cepat sedetik saja.
Pasti dia yang ditancapi pecahan kaca itu.
Ckckckck....
Meskipun selamat dari sambaran petir waktu itu, aku tak mau mengalaminya lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar